Blog

18 Jul
0

KEHANGATAN KUNJUNGAN TIGA SUSTER PBHK DI ASRAMA SMK SIDAREJA

Jumat, 12 Januari 2024 menjadi hari penuh sukacita dan kehangatan di Asrama Putri SMK Yos Sudarso Sidareja. Pada hari itu, para putri PACE mendapat kunjungan istimewa dari tiga suster PBHK (Putri Bunda Hati Kudus), yaitu Suster Ancilla, Suster Paula, dan Suster Vincentia. Kunjungan ini menjadi momen yang begitu berarti bagi para siswi, terutama dalam mengawali tahun dengan semangat dan harapan baru.

Kehadiran ketiga suster ini disambut hangat dan penuh antusias oleh para putri asrama. Senyum dan pelukan menyambut setiap langkah mereka memasuki ruangan, menandakan betapa rindunya anak-anak ini pada sosok-sosok pengasuh yang mengingatkan mereka pada rumah dan keluarga. Suster Ancilla, yang sudah cukup dikenal di kalangan anak-anak, membawa suasana penuh ketenangan dan keibuan sejak awal kedatangannya.

Dalam perbincangan santai yang berlangsung di ruang tengah asrama, para suster mendengarkan cerita-cerita keseharian para siswi. Ada tawa, canda, dan beberapa curahan hati yang mengalir begitu saja. Momen ini menjadi wadah pelepas rindu, terutama bagi mereka yang mulai merasakan kerinduan mendalam akan kampung halaman dan keluarga mereka di Papua.

Kehadiran Suster Paula dan Suster Vincentia juga menambah keceriaan. Mereka mengajak anak-anak untuk tetap semangat menjalani hari-hari di perantauan, meski jauh dari keluarga. Pesan-pesan sederhana mereka mengenai semangat belajar, hidup rukun di asrama, dan selalu bersyukur, disampaikan dengan hangat dan menyentuh hati.

Usai sesi berbincang, para suster mengajak anak-anak untuk berdoa bersama. Dalam doa yang hening dan khusyuk, anak-anak menyerahkan segala kerinduan dan harapan mereka kepada Tuhan. Doa ini menjadi momen refleksi yang mendalam bagi semua, sekaligus sebagai kekuatan baru untuk menjalani hari-hari ke depan dengan lebih tenang dan penuh sukacita.

Kunjungan ini memang singkat, namun memberi dampak emosional yang sangat besar bagi para siswi. Kehadiran para suster menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri dalam perjuangan ini. Ada banyak orang yang mendukung, mendoakan, dan mencintai mereka dari hati yang tulus.

Hari itu ditutup dengan kebersamaan dalam suasana sederhana namun penuh makna. Pelukan hangat, tawa ringan, dan lambaian tangan menjadi akhir dari kunjungan yang berkesan. Putri-putri PACE kembali mendapatkan kekuatan baru, semangat baru, dan tentu saja, sedikit pengobat rindu akan rumah yang jauh di tanah Papua.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
17 Jul
0

RETRET PENYEMBUHAN UNTUK LUKA BATIN

Setelah mengikuti retret awal sebagai langkah pertama yang berani meninggalkan tanah kelahiran mereka dan memulai perjalanan baru di Cilacap, pada Rabu, 9 Juli 2025 pukul 00.00 WIB, kami menjemput para gadis Papua di Sidareja untuk mengikuti tahap berikutnya, yaitu Retret Penyembuhan Luka Batin (PLB) di Lembah Carmel, Cikanyere, Cianjur. Kami akan tinggal di Cikanyere hingga 13 Juni 2025. Retret ini merupakan ruang antara, jeda yang hangat dan reflektif sebelum mereka benar-benar memasuki rutinitas dan kesibukan dunia sekolah.

Di sini, mereka tidak hanya diberi waktu untuk beristirahat, tetapi juga diajak menyelami diri sendiri, mengenal siapa diri mereka lebih dalam, menggali mimpi-mimpi yang mungkin tersembunyi, dan merencanakan langkah masa depan. Suasana retret Penyembuhan Luka Batin bukan sekadar rangkaian aktivitas, melainkan ruang aman untuk bercerita, berbagi, dan saling menguatkan. Dalam suasana sejuk, indah, dan tenang Lembah Carmel, proses menemukan sisi lain dari kepribadian diri pun dimulai. Ini adalah proses refleksi yang kadang terasa melelahkan dan memakan waktu. Menghadapi sesi demi sesi membuat kami harus melawan kantuk dan kebosanan. Meski diselingi pujian dan ice-breaking yang menyenangkan, saya melihat teman-teman Papua yang cantik ini merasa tidak nyaman dan gelisah. Itu proses yang wajar. Saya pun merasakannya saat pertama kali mengikuti retret ini.

Dalam sesi Penyembuhan yang dipimpin oleh para Suster dari Kongregasi Putri Carmel dan Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE) yang didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, beberapa dari mereka mulai membuka luka lama, perasaan kehilangan, perasaan ditinggalkan, pengalaman kekerasan, atau kecemasan meninggalkan kampung halaman. Dalam suasana penuh penerimaan, air mata menjadi bagian dari proses penyembuhan. Dalam retret ini kami diajak menggali masa lalu yang menyakitkan dan diajak untuk memaafkan situasi atau siapa pun yang pernah menyakiti kami. Kami diajak mengenal lebih dalam KASIH ALLAH yang menerima kami apa adanya. Kesadaran bahwa Allah mencintai dan menerima kami secara cuma-cuma diharapkan membangun kepercayaan diri. Saat saya mengajak mereka bercerita malam itu setelah prosesi pembasuhan kaki, mereka dengan gembira mengungkapkan perasaan. Masing-masing mengatakan bahwa tiba-tiba terasa ringan dan seperti ada “sesuatu” yang keluar dari diri mereka.

Perjalanan menuju retret juga menjadi ruang untuk mengungkapkan identitas dan budaya mereka. Dalam kendaraan sepanjang perjalanan, mereka menyanyikan lagu-lagu dari Papua. Muncul rasa bangga karena bisa menyanyikan lagu tradisi mereka. Suara merdu Aknes, Fiktoria, dan teman-teman mereka menghibur kami sepanjang perjalanan pergi dan pulang ke Lembah Carmel. Mereka larut menyanyikan lagu-lagu dari timur dan lagu-lagu tahun 1980-an. Meski anak-anak muda di Jawa mungkin tak mengenal lagu-lagu tahun 80-an itu, mereka menyanyikannya dengan sangat indah. Mereka menyanyikan lagu Betharia Sonata dengan lancar.

Dengan para pendamping yang penuh perhatian dan teman-teman baru dari berbagai latar belakang, para gadis Papua mulai membangun kembali kepercayaan diri dan harapan. Mereka tampak percaya diri bertemu banyak orang baru di Lembah Carmel. Mereka bersemangat saat bertemu dengan beberapa calon imam dan suster dari Indonesia timur. Mereka juga berkenalan dengan beberapa peserta retret lain yang berasal dari Flores. Retret ini bukan hanya tentang persiapan akademik, tetapi lebih dari itu: tentang penyembuhan hati, penguatan identitas, dan kesiapan menghadapi hidup jauh dari rumah, di lingkungan baru, yang penuh tantangan dan peluang. Hampir semua dari mereka awalnya mengeluh saat tahu sesi retret akan panjang dan melelahkan. Tetapi setelah sesi pembasuhan kaki dan munculnya “sesuatu” dari dalam diri mereka, mereka merasa lebih ringan dan bebas.

Retret PLB menjadi titik penting dalam perjalanan mereka, bukan akhir, melainkan awal dari proses pertumbuhan yang lebih utuh, sadar, dan bermakna. Membawa warisan budaya dan semangat baru, para gadis Papua kini lebih siap melangkah ke dunia yang lebih luas, tanpa kehilangan akar yang membentuk siapa diri mereka. Pesan orang tua mereka adalah bahwa mereka tidak boleh pulang sebelum berhasil menggapai mimpi di tanah rantau.

“Anak-anak, jangan pulang sebelum berhasil meraih mimpi.” Itulah pesan orang tua mereka saat melepas anak-anak mereka dari tanah kelahiran. Meski perpisahan itu berat, mereka rela melakukannya demi masa depan yang lebih baik. Mereka ingin anak-anak mereka belajar sungguh-sungguh, bertahan dalam suka dan duka, dan suatu saat kembali ke rumah dengan kebanggaan. Pesan ini menjadi pegangan di setiap langkah: tetap semangat, tetap kuat, dan terus mengejar mimpi. Itu bukan sekadar kalimat, tetapi tanggung jawab yang harus dibuktikan.

Retret Penyembuhan Luka Batin yang kami jalani bersama putri-putri Papua adalah momen penuh harapan dan kebaruan. Namun, di tengah sukacita itu, satu wajah tidak hadir. Klara Kawon, salah satu anak yang datang jauh dari Papua, terpaksa harus tinggal di asrama. Bukan karena keinginannya, melainkan karena tubuhnya menunjukkan tanda-tanda tidak sehat sejak keberangkatan. Demamnya naik turun. Kami menduga malaria, penyakit yang masih cukup umum di daerah asalnya. Kekhawatiran ini membuat kami mengambil keputusan sulit: membiarkan Klara tinggal dan tidak ikut retret. Bukan karena kami mengabaikannya, tetapi karena kami ingin memastikan ia mendapat perawatan yang tepat dan aman.

Pada Kamis, 10 Juli 2025, bersama Pak Eko, perwakilan dari sekolah, Klara dibawa ke Klinik Pratama Yos Sudarso di Sokaraja. Di sana, ia diperiksa langsung oleh dr. Tati. Setelah serangkaian pemeriksaan, akhirnya kami menghela napas lega. Ternyata bukan malaria. Kondisi fisiknya melemah karena tekanan psikologis yang berat. Dokter menyimpulkan bahwa Klara mengalami stres berat yang memengaruhi asam lambungnya.

Mendengar hal ini, hati kami bergejolak. Ada rasa syukur karena penyakit yang dikhawatirkan tidak terbukti. Namun di sisi lain, kami sadar bahwa perjalanan anak-anak ini lebih dari sekadar pindah tempat. Ini melibatkan beban, ketegangan, dan penyesuaian yang sulit. Tubuh Kelara mungkin sedang berbicara padanya, menyuarakan perasaan yang belum sempat ia ungkapkan.

Meskipun ia tidak ikut retret ini, doa kami menyertai proses pemulihannya. Kami percaya setiap anak memiliki waktu dan jalannya sendiri. Dan ketika saatnya tiba, Klara akan kembali berdiri, kuat, dan siap berjalan bersama teman-temannya.

Foto bersama di halaman Asrama Putri SMK Yos Sudarso Sidareja

Foto bersama di halaman Asrama Putri SMK Yos Sudarso Sidareja

Sesi dalam retret Penyembuhan Luka Batin

Rafela dan Viktoria membagikan pengalaman mereka selama sesi Pembasuhan Kaki.

Mereka mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka tidak mengenal retret Penyembuhan Luka Batin, karena kegiatan seperti ini belum pernah diadakan di Papua. Yang mereka tahu sebelumnya hanyalah kegiatan rekoleksi.

Namun, dalam retret ini, mereka mengalami sesuatu yang sangat berbeda. Dalam suasana doa dan refleksi yang mendalam, mereka mulai menyadari bahwa mereka menyimpan kepahitan dan luka mendalam, terutama terhadap orang tua mereka ayah dan ibu yang sering menghukum mereka dengan keras.

Pengalaman ini menjadi titik awal bagi Rafela dan Viktoria untuk membuka hati, mengakui luka batin mereka, dan memulai proses pengampunan serta penyembuhan secara spiritual dan emosional.

Setelah hari yang panjang dan melelahkan, kami berhenti makan malam di Rumah Makan Ampera di Bandung. Sambil menunggu hidangan hangat khas Sunda, kami melihat wajah-wajah lelah, namun tetap dihiasi senyum. Meskipun tubuh terasa letih, suasana kebersamaan dan rasa syukur menghangatkan hati. Senyuman-senyuman itu seolah menceritakan kisah, kisah perjuangan hari itu dan keindahan sederhana dari kebersamaan.

Penulis: PACE TIM

Read More
16 Jul
0

KEHANGATAN IDUL FITRI BERSAMA KELUARGA IBU SUGI DI DESA CINANGSI

Senin, 8 April 2024, menjadi awal dari liburan Hari Raya Idul Fitri yang sangat berkesan bagi putri-putri Papua yang tergabung dalam Program PACE. Selama tujuh hari penuh, mereka tinggal dan merayakan momen spesial ini bersama keluarga Ibu Sugi di Desa Cinangsi, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap. Liburan ini bukan sekadar rehat dari aktivitas sekolah, namun juga menjadi pengalaman sosial dan budaya yang sangat berharga bagi mereka.

Sejak hari pertama, mereka disambut dengan ramah oleh keluarga Ibu Sugi dan warga sekitar. Meskipun berbeda latar belakang budaya dan agama, mereka tidak merasakan adanya batasan ataupun perbedaan. Justru sebaliknya, mereka merasa diterima dan disambut sebagai bagian dari keluarga besar di desa tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa persaudaraan sejati dapat tumbuh di mana saja, tanpa memandang suku atau agama.

Selama beberapa hari pertama, mereka ikut merasakan suasana puasa yang dijalani oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Mereka belajar memahami makna ibadah puasa dalam kehidupan umat Muslim, sekaligus turut menjaga suasana penuh toleransi dan kebersamaan. Hal ini menjadi pengalaman baru yang sangat membuka wawasan mereka tentang nilai-nilai hidup berdampingan.

Tibanya Hari Raya Idul Fitri pun disambut dengan penuh sukacita. Mereka ikut merasakan kebahagiaan saat silaturahmi, berkunjung ke rumah-rumah warga, menikmati hidangan khas Lebaran, serta berbagi cerita dan tawa bersama anak-anak dan keluarga di desa. Momen ini menjadi pelajaran hidup tentang kehangatan, keramahan, dan nilai kekeluargaan yang mendalam.

Suasana pedesaan yang masih asri, dengan pepohonan besar dan udara segar, mengobati kerinduan mereka akan kampung halaman di Papua. Pemandangan alam yang hijau dan tenang menjadi pelipur lara di tengah kerinduan akan rumah. Bahkan, Nania dan Dopi mengaku merasa sangat betah hingga enggan kembali ke asrama karena merasakan kenyamanan dan kasih sayang yang mereka dapatkan di sana.

Selama di desa, mereka juga terlibat dalam berbagai aktivitas seperti membantu memasak, membersihkan halaman, dan bermain bersama anak-anak sekitar. Kegiatan ini membuat mereka merasa benar-benar menjadi bagian dari komunitas. Interaksi yang terjadi begitu alami dan akrab, menjadikan pengalaman ini sebagai bentuk pembelajaran sosial yang luar biasa.

Liburan bersama keluarga Ibu Sugi tidak hanya memberi mereka waktu untuk beristirahat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan cinta terhadap alam serta sesama. Saat kembali ke asrama, mereka membawa pulang cerita dan kenangan indah yang akan terus melekat dalam hati mereka. Suatu momen liburan yang sederhana, namun sangat kaya makna.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
16 Jul
0

KEBERANGKATAN PUTRI-PUTRI PACE UNTUK PKL TAHUN 2024

Senin, 05 Agustus 2024 menjadi hari yang penting bagi putri-putri PACE karena mereka resmi memulai kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lokasi yang telah ditentukan. Selama tiga bulan ke depan, mereka akan mengikuti kegiatan PKL yang dijadwalkan hingga tanggal 6 November 2024. Ini merupakan bagian penting dari proses belajar mereka di SMK Yos Sudarso Sidareja, sekaligus sebagai bekal awal sebelum terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.

Sebanyak lima orang siswa ditempatkan di KPTT Salatiga, yaitu Fransika Fandora Wokot, Paskalina Teretkon, Fransiska Memkon, Dopiana Kakon, dan Nania Defelina Aunggon. Mereka akan tinggal dan menjalani kegiatan di lingkungan pertanian terpadu yang diharapkan mampu memperkuat keterampilan praktis serta meningkatkan pemahaman mereka dalam bidang keahlian masing-masing.

Sementara itu, empat siswa lainnya ditempatkan di P4S Tranggulasih Semarang, yaitu Agnes Uyukmen, Klara BJ Mekon, Elenia Yoman, dan Sebastian Yamnip. Mereka akan mengikuti program pembelajaran berbasis praktik di pusat pelatihan pertanian yang cukup dikenal dengan program-program unggulannya. Kehidupan mandiri dan interaksi sosial yang baru akan menjadi tantangan tersendiri yang memperkaya pengalaman mereka.

Berbeda dengan yang lain, satu orang siswa yaitu Gerce Susana Bugdun, menjalani PKL di sekolah karena alasan kesehatan. Meski tidak bisa berangkat ke luar kota, Susan tetap mengikuti program praktik dengan sungguh-sungguh di SMK Yos Sudarso Sidareja. Keputusan ini diambil sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatannya, sekaligus sebagai upaya agar ia tetap mendapatkan pembelajaran yang setara dengan teman-temannya.

Keberangkatan mereka diiringi doa dan harapan dari para guru, pendamping, dan seluruh keluarga besar sekolah. Semua berharap agar para siswa dapat menjalani PKL ini dengan penuh semangat, tanggung jawab, dan tetap menjaga nama baik sekolah. Bagi putri-putri PACE, ini bukan hanya sekadar tugas sekolah, tetapi juga kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan dan karakter mereka.

Selain belajar secara teknis di lapangan, PKL ini juga menjadi momen penting bagi para siswa untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman, melatih kemandirian, serta memperluas wawasan dan jaringan. Mereka akan bersentuhan langsung dengan berbagai latar belakang dan budaya, sesuatu yang sangat penting dalam membentuk pribadi yang terbuka dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Semoga seluruh kegiatan PKL ini berjalan lancar dan memberikan hasil yang maksimal. Kami percaya bahwa setiap pengalaman yang diperoleh akan menjadi bekal berharga yang tak tergantikan. Selamat belajar dan berkarya, putri-putri PACE!

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
16 Jul
0

HASIL BIOPSI DAN PROSES LANJUTAN PENGOBATAN SUSANA

Senin, 29 April 2024, Gerce Susana kembali menjalani kontrol ke Rumah Sakit Santa Maria sebagai tindak lanjut dari proses biopsi yang telah dilakukan sebelumnya. Hari ini menjadi momen penting untuk mengetahui hasil dari pemeriksaan medis tersebut. Kami mendampingi Susan dengan penuh harap, meski di sisi lain ada juga rasa cemas akan kemungkinan yang akan disampaikan dokter.

Setelah bertemu dengan dokter, hasil biopsi pun disampaikan. Dari pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa benjolan yang ada di leher Susana disebabkan oleh TB kelenjar. Mendengar hasil ini tentu menjadi pukulan yang cukup berat, namun juga menjadi kejelasan yang selama ini ditunggu. Setidaknya, kini diketahui dengan pasti apa yang sedang dialami oleh Susana.

Diagnosis ini bukan akhir, melainkan awal dari proses pengobatan yang lebih panjang. Dokter menjelaskan bahwa pengobatan TB kelenjar memerlukan ketekunan dan kesabaran, karena proses penyembuhannya tidak bisa instan. Selain itu, untuk memastikan pengobatan berjalan dengan tepat, diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah infeksi TB ini juga sudah menyebar ke paru-paru.

Dengan demikian, Susana dijadwalkan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan tambahan, khususnya pemeriksaan pada paru-parunya. Hasil ini sangat penting untuk menentukan penanganan selanjutnya, apakah cukup dengan pengobatan TB kelenjar atau perlu juga pengobatan intensif untuk TB paru.

Tentu bukan hal mudah bagi Susana menerima kenyataan ini, apalagi di usianya yang masih muda dan jauh dari keluarga. Namun demikian, ia tetap menunjukkan ketabahan dan semangat untuk menjalani semua proses pengobatan ini. Dukungan dari kami semua menjadi sangat penting agar ia tidak merasa sendiri dalam perjuangan ini.

Kami pun menguatkan Susana agar tetap bersyukur dan tidak kehilangan semangat. Proses ini memang panjang, tetapi dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan dalam mengikuti anjuran dokter, besar harapan untuk sembuh sepenuhnya. Selain itu, kami juga terus mendampingi dan memantau kondisinya dari hari ke hari.

Hari ini menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah anugerah yang sangat besar. Kami berdoa agar Gerce Susana diberi kekuatan untuk menjalani setiap proses pengobatan yang akan datang. Semoga semua tahapan berjalan dengan lancar dan membawa hasil yang baik untuk kesembuhannya.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
15 Jul
0

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) SMP Yos Sudarso Majenang

Majenang, Cilacap, 14 Juli 2025

“Pagi Ku Cerah Ku, Matahari Bersinar” begitu lah lagu yang biasa terngiang oleh anak – anak saat masuk sekolah ditahun ajaran baru,pada hari Senin, 14 Juli 2025 para Peserta Didik Baru Kelas VII SMP Yos Sudarso Majenang Tahun Ajaran : 2025/2026.

Kegembiraan begitu terpancar dari wajah Kepala Sekolah, Guru, Karyawan serta Kakak Kelas VII, Kelas VII dalam penyambutan Siswa/Siswi Baru Kelas VII.

Hari pertama dimulai dengan upacara pengibaran bendera merah putih, dalam kesempatan itu pula Siswa/Siswi yang baru dikenalkan dengan para Guru pembimbing yang akan memberikan ilmu untuk para Siswa/Siswi selama di sekolah SMP Yos Sudarso Majenang.

Dalam sambutan dari Kepala Sekolah SMP Yos Sudarso Majenang yaitu Antonius Sulistiyono, S.Pd.Sd berkata “ Selamat datang bagi Peserta Didik Baru Kelas VII, dunia yang baru bagi mereka, karena dulu waktu di SD mungkin hanya diajar oleh satu Guru tapi ketika di SMP mereka akan bertemu dengan Guru yang berbeda – beda, selain itu beliau juga berharap agar Siswa/Siswi dapat menerima ilmu yang disampaikan oleh para Guru dan merasakan kenyamanan dalam lingkungan sekolah SMP Yos Sudarso Majenang. Sekali lagi selamat datang dan mari berjuang bersama meraih ilmu untuk masa depan kalian semua.”

Selain memperkenalkan Guru dan Karyawan, Siswa/Siswi Baru juga diajak keliling untuk melihat – lihat kelas dan lingkungan sekolah, agar mereka mengenal lingkungan sekolah SMP Yos Sudarso Majenang.

Penulis : Dina Nur Hidayah – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
15 Jul
0

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) SMK Yos Soedarso Sidareja

Sidareja, Cilacap, 14 Juli 2025

Dihari pagi yang cerah para Peserta Didik Baru Kelas X SMK Yos Sudarso Sidareja yang berjumlah sekitar 560 Siswa/Siswi dalam tujuh prodi atau jurusan yaiutu : Agribisnis Tanamaan Pangan dan Holtikultura, Akuntansi, Teknik Kapal Penangkap Ikan, Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Sepeda Motor, Farmasi Klinis dan Komunitas yang sudah mulai berdatangan dengan dimulai Tahun Ajaran Baru : 2025/2026 pada tanggal 14 Juli 2025.

Para Guru, Karyawan serta Kakak Kelas XI dan XII sangat antusias dan menyambut dengan hangat para peserta didik baru. Ada rasa bahagia dan gembira karena merasa kehadiran keluarga baru bagi sekolah SMK Yos Soedarso Sidareja

Sambutan mereka dimulai dengan mengumpulkan para Siswa/Siswi baru di lapangan SMK Yos Soedarso Sidareja untuk saling memperkenalkan diri dan memperkenalkan lingkungan sekolah bagi para Siswa/Siswi yang baru. Suasana begitu teras hangat dan cair antara Guru, Karyawan dan para Siswa/Siswi serta Kaka Kelas XI dan XII.

Dalam Pidatonya Bapak Kepala Sekolah yaitu Bapak Muhyasin,S.Pd. mengucapkan “Selamat Datang dan Selamat Bergabung di sekolah SMK Yos Soedarso Sidareja bagi para Peserta Didik Baru, semoga dalam lingkungan yang baru ini para Siswa/Siswi dapat merasakan nyaman dan mendapatkan ilmu sebanyak mungkin dari Guru yang akan membimbing untuk bekal masa depan kelak mereka nanti”.

Penulis : Dina Nurh Hidayah – Doc. Sekretariat YSBS@2025




Read More
15 Jul
0

BERBAGI KASIH LEWAT MASAKAN UNTUK ABANG-ABANG BECAK

Minggu, 18 Februari 2024 menjadi hari penuh makna bagi putri-putri Papua yang tinggal di asrama SMK Yos Sudarso Sidareja. Dengan penuh semangat dan cinta, mereka menyiapkan hidangan sederhana untuk dibagikan kepada abang-abang becak yang biasa mangkal di sekitar asrama. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran hidup untuk selalu berbagi, meskipun dalam keterbatasan.

Pagi-pagi sekali, mereka sudah mulai berkumpul di dapur asrama. Bersama-sama mereka memasak dengan sukacita, membagi tugas mulai dari mencuci bahan, memotong sayuran, hingga mengaduk masakan di atas kompor. Tidak ada yang merasa lebih penting dari yang lain. Semua bahu-membahu menciptakan suasana dapur yang ramai dan penuh kehangatan.

Suara tawa dan obrolan ringan terdengar sepanjang proses memasak. Para pendamping seperti Ibu Trees juga turut membantu dan mendampingi mereka dalam kegiatan ini. Proses ini bukan hanya tentang menyiapkan makanan, tetapi juga tentang menanamkan nilai empati, kepedulian, dan semangat melayani kepada sesama yang ada di sekitar mereka.

Setelah masakan selesai, mereka mulai membungkus makanan dengan rapi. Setiap bungkus makanan diisi dengan kasih dan harapan agar bisa menjadi berkat bagi yang menerimanya. Tidak lama kemudian, mereka berjalan keluar asrama dan membagikan makanan satu per satu kepada para abang becak yang sedang beristirahat menunggu penumpang.

Para abang becak tampak terharu dan tersenyum menerima makanan yang diberikan. Beberapa bahkan tidak menyangka akan mendapatkan perhatian hangat seperti ini dari para siswi. Ucapan terima kasih dan doa pun mengalir dari mulut mereka, menambah kehangatan suasana pagi itu. Momen ini pun menjadi pertemuan sederhana yang menyentuh hati.

Kegiatan ini bukan pertama kalinya dilakukan, tetapi setiap kali dilaksanakan selalu membawa kebahagiaan yang berbeda. Bagi putri-putri Papua, berbagi bukanlah tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana mereka bisa menjadi saluran kasih Tuhan bagi sesama di sekitar mereka, tanpa membedakan latar belakang siapa pun.

Hari itu ditutup dengan hati yang penuh syukur. Meski yang mereka bagikan hanyalah makanan sederhana, namun makna dan cinta yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar. Mereka belajar bahwa dengan memberi, hati pun dipenuhi kedamaian dan sukacita. Sebuah pelajaran kehidupan yang tak terlupakan dalam perjalanan mereka di tanah rantau.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
15 Jul
0

APRESIASI SEKOLAH UNTUK PRESTASI GEMILANG PUTRI PACE

Selasa, 28 Mei 2024 menjadi hari yang penuh sukacita bagi para putri PACE di SMK Yos Sudarso Sidareja. Pada hari ini, sekolah memberikan apresiasi berupa hadiah kepada para siswi yang telah berhasil mencetak prestasi membanggakan dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Paskalina dan Nania menjadi dua di antara putri-putri yang menerima penghargaan ini karena keberhasilan mereka mengharumkan nama sekolah di tingkat kabupaten maupun wilayah.

Pemberian hadiah ini bukan sekadar simbol penghargaan, tetapi juga bentuk nyata dukungan dan semangat dari pihak sekolah terhadap perjuangan dan kerja keras para siswa. Kepala Sekolah, Bapak Didik, menyerahkan langsung hadiah tersebut dengan disaksikan guru-guru, teman-teman, serta para pendamping. Momen ini menjadi sangat spesial karena menghadirkan kebanggaan dan motivasi yang mendalam.

Putri-putri PACE yang menerima hadiah tampak sangat bahagia dan tersentuh. Mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan sekolah serta bimbingan dari para guru dan pendamping. Momen ini juga menjadi pengingat bagi mereka bahwa kerja keras mereka dihargai dan diperhatikan, yang menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk terus berkembang.

Teman-teman mereka di asrama pun ikut merasakan kebahagiaan dan turut memberikan dukungan moral. Kehangatan dan kebersamaan dalam komunitas asrama menjadi salah satu faktor penting yang turut membantu mereka dalam menapaki setiap proses menuju prestasi.

Dengan adanya penghargaan ini, sekolah ingin terus membangun budaya apresiasi dan mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan positif, baik akademik maupun non-akademik. Harapannya, semangat kompetitif yang sehat terus tumbuh dalam lingkungan sekolah.

Semoga prestasi yang diraih oleh putri-putri PACE ini menjadi langkah awal dari pencapaian-pencapaian lainnya di masa depan. Mereka adalah bukti bahwa dengan semangat, kerja keras, dan dukungan yang tepat, siswa dari berbagai latar belakang bisa tampil membanggakan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More
14 Jul
0

SEMARAK HUT RI KE-78, PUTRI SIDAREJA TAMPILKAN TARIAN ADAT PAPUA

Pada Kamis, 17 Agustus 2023, suasana Alun-Alun Kecamatan Sidareja tampak semarak dan penuh warna. Upacara peringatan HUT RI ke-78 berlangsung khidmat, diikuti oleh berbagai golongan masyarakat, mulai dari pelajar, guru, perangkat desa, hingga warga umum yang antusias menghadiri acara tersebut. Selain upacara bendera, peringatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan seni budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah pertunjukan tarian adat dari Papua yang dibawakan oleh sekelompok siswi dari Distrik Sidareja. Mereka tampil dengan penuh semangat dan percaya diri, mengenakan kostum khas Papua yang berwarna-warni. Gerakan mereka kompak dan penuh makna, mencerminkan semangat kebersamaan serta kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam.

Partisipasi mereka dalam acara ini menjadi bentuk kontribusi nyata generasi muda dalam menjaga dan melestarikan budaya nusantara. Dengan menampilkan tarian adat dari Papua, mereka tidak hanya memperkenalkan budaya dari ujung timur Indonesia, tetapi juga menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman, sesuai dengan tema peringatan HUT RI ke-78.

Latihan yang mereka lakukan sebelum hari H membuahkan hasil yang memuaskan. Meski waktu latihan tidak terlalu panjang, mereka mampu menampilkan pertunjukan yang memukau dan mendapat tepuk tangan meriah dari para penonton. Semangat mereka untuk tampil maksimal di tengah perayaan kemerdekaan menjadi contoh teladan bagi teman-teman seusia mereka.

Penampilan ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap kekayaan budaya Papua yang sering kali belum banyak dikenal di wilayah Jawa. Dengan adanya tarian ini, diharapkan masyarakat Sidareja bisa lebih mengenal dan menghargai budaya dari berbagai pelosok nusantara. Selain itu, hal ini membuktikan bahwa semangat nasionalisme bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui seni dan budaya.

Para penari tampak bangga bisa ikut serta memeriahkan peringatan HUT RI ke-78. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan karena turut ambil bagian dalam acara besar yang memperingati kemerdekaan bangsa. Keterlibatan mereka memberikan nuansa berbeda dalam upacara, menjadikannya bukan sekadar seremonial, tetapi juga momentum perayaan budaya dan persatuan.

Penampilan tarian adat Papua ini menjadi salah satu sorotan yang memperkaya rangkaian acara HUT RI di Sidareja. Diharapkan tahun-tahun berikutnya, penampilan budaya dari daerah lain pun dapat terus ditampilkan oleh generasi muda sebagai bentuk cinta tanah air dan komitmen menjaga kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Penulis: Chr.Rr.Ika Yuni Astuti

Editor: Gladys – Doc. Sekretariat YSBS@2025

Read More