Cilacap — Sekolah-sekolah di wilayah pesisir Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, menjalani proses penguatan ketangguhan bencana melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dilaksanakan oleh Unit Karya Mino Martani Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) bekerja sama dengan ChildFund International di Indonesia. Program ini hadir sebagai upaya membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, tangguh, dan berpihak pada perlindungan anak di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana.
Wilayah Kampung Laut yang meliputi Desa Panikel, Klaces, Ujungalang, dan Ujunggagak selama ini dikenal sebagai kawasan pesisir yang rentan terhadap berbagai ancaman bencana. Perubahan kondisi alam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari ancaman banjir rob, angin kencang, cuaca ekstrem, hingga berbagai risiko lain yang dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan proses pendidikan di sekolah.

Melalui buku dokumentasi berjudul “Di Sekolah Pesisir: Tangguh Bencana, Ketika Sekolah Menjadi Ruang Aman Bagi Anak”, dijelaskan bahwa ketangguhan tidak lahir secara tiba-tiba. Ketangguhan dibangun melalui proses panjang, kebersamaan, serta komitmen yang terus dirawat dari waktu ke waktu. Program SPAB kemudian hadir bukan sekadar sebagai program teknis kesiapsiagaan bencana, tetapi juga sebagai proses pembelajaran bersama untuk membangun budaya aman di lingkungan pendidikan.
Kepala Unit Karya Mino Martani YSBS, Lisa Indah Prasetyanti, menyampaikan bahwa sekolah-sekolah di wilayah pesisir belajar bahwa pendidikan yang bermakna tidak hanya berbicara mengenai transfer pengetahuan, tetapi juga mengenai perlindungan, kesiapan, dan penguatan anak agar mampu menghadapi masa depan dengan kesadaran terhadap risiko yang ada di lingkungan mereka.
Menurutnya, keselamatan perlu menjadi nilai yang hidup dalam kebijakan sekolah, praktik pembelajaran, hingga hubungan antarwarga sekolah sehari-hari. Anak-anak didorong untuk mengenali lingkungan sekitarnya dan berani bersuara, sementara guru memperkuat perannya sebagai pendamping yang lebih peka dan responsif terhadap kebutuhan serta keselamatan siswa.
Program SPAB mulai dijalankan pada tahun 2025 dengan fokus intervensi pada tiga SMP piloting di Kecamatan Kampung Laut. Sebelum program berjalan, sekolah-sekolah tersebut menghadapi berbagai tantangan yang cukup besar. Aktivitas belajar sering terganggu akibat kondisi lingkungan dan ancaman bencana yang terjadi di wilayah pesisir. Selain itu, pemahaman mengenai pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah juga masih terbatas.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sebelum program berjalan, sekolah-sekolah belum memiliki sistem manajemen keselamatan sekolah yang kuat. Prosedur penanganan keadaan darurat belum tersusun secara optimal, simulasi kebencanaan belum menjadi kebiasaan rutin, dan pendidikan mengenai kesiapsiagaan bencana belum sepenuhnya terintegrasi dalam kegiatan sekolah sehari-hari.
Melalui program ini, berbagai tahapan penguatan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan partisipatif. Program tidak hanya melibatkan pihak sekolah, tetapi juga melibatkan siswa, guru, orang tua, pemerintah desa, pemerintah daerah, serta berbagai pihak lain yang berkaitan dengan pengurangan risiko bencana.
Tahapan awal program dimulai melalui baseline survey untuk melihat kondisi sekolah dan kebutuhan yang ada di lapangan. Setelah itu dilakukan pelatihan manajemen keselamatan sekolah, penguatan kapasitas guru, serta pembentukan Komite Manajemen Keselamatan Sekolah (KMKS) sebagai bagian dari penguatan sistem kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan.

Selain pembentukan komite, sekolah juga melakukan penyusunan Kajian Risiko Bencana (KRB), penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) kebencanaan, serta penyusunan Rencana Kontinjensi Sekolah yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi ancaman di masing-masing wilayah sekolah.
Program ini juga menghadirkan berbagai kegiatan sosialisasi dan simulasi evakuasi yang melibatkan seluruh warga sekolah. Simulasi dilakukan untuk membangun pemahaman bersama mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi situasi darurat. Kegiatan simulasi menjadi bagian penting dalam membangun budaya aman di sekolah agar seluruh warga sekolah mengetahui prosedur keselamatan yang perlu dilakukan.
Dalam dokumentasi program tersebut dijelaskan bahwa proses membangun sekolah aman bencana tidak hanya dilakukan melalui pelatihan formal, tetapi juga melalui pembiasaan sehari-hari. Sekolah mulai membangun budaya kesiapsiagaan melalui berbagai aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Anak-anak di wilayah pesisir juga mulai belajar memahami bahwa ancaman bencana bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan, tetapi perlu dipahami dan dihadapi dengan kesiapan yang baik. Pendekatan tersebut membantu siswa untuk memiliki kesadaran mengenai pentingnya keselamatan tanpa menimbulkan rasa panik.
Buku dokumentasi itu juga memuat berbagai pengalaman dan suara anak-anak dari sekolah pesisir mengenai perubahan yang mereka rasakan selama mengikuti program. Anak-anak mulai memahami pentingnya jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta langkah-langkah perlindungan diri ketika terjadi situasi darurat.
Selain itu, guru dan sekolah juga mulai membangun lingkungan belajar yang lebih aman dan adaptif. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga diharapkan menjadi ruang aman bagi anak dalam menghadapi berbagai risiko yang ada di lingkungan sekitar.
Country Director ChildFund International di Indonesia, Husnul Maad, dalam pengantar buku tersebut menjelaskan bahwa Program Sekolah Aman dirancang untuk menjawab berbagai risiko yang dihadapi anak di satuan pendidikan, termasuk risiko bencana, kekerasan, dan lemahnya sistem perlindungan anak.
Melalui program ini, sekolah didorong untuk memiliki prosedur, praktik, dan budaya yang berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan anak. Penguatan kapasitas sekolah dilakukan agar perlindungan terhadap anak tidak hanya hadir saat terjadi bencana, tetapi menjadi bagian dari sistem yang berjalan dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Program SPAB di Kampung Laut juga melibatkan kerja sama lintas sektor. Dukungan diberikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta berbagai pihak lainnya.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kesiapsiagaan sekolah karena pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pendekatan kolaboratif dinilai penting agar sekolah, masyarakat, dan pemerintah dapat berjalan bersama dalam membangun sistem perlindungan yang lebih kuat.
Salah satu capaian strategis dari program ini adalah terbentuknya Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) tingkat Kabupaten Cilacap serta Tim Kecamatan Tangguh Bencana Kampung Laut. Pembentukan struktur tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat koordinasi lintas sektor dan keberlanjutan program di tingkat daerah.
Melalui pembentukan sekretariat bersama tersebut, diharapkan penguatan sekolah aman bencana tidak berhenti sebagai program jangka pendek, tetapi dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan melalui koordinasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Dalam buku dokumentasi tersebut juga dijelaskan bahwa ketangguhan bukan berarti meniadakan bencana. Ketangguhan dimaknai sebagai upaya mempersiapkan pengetahuan, keberanian untuk bertindak, serta komitmen kebersamaan dalam menghadapi situasi darurat maupun setelah bencana terjadi.
Program SPAB di wilayah pesisir Kampung Laut menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi pusat perlindungan, ruang belajar, sekaligus ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak. Dari wilayah yang selama ini dipandang rentan, sekolah-sekolah di Kampung Laut mulai membangun praktik baik dalam penguatan kesiapsiagaan dan perlindungan anak.

Melalui kolaborasi antara Unit Karya Mino Martani YSBS, ChildFund International di Indonesia, pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu memperkuat sistem pendidikan yang aman, inklusif, dan tangguh bencana di wilayah pesisir Kabupaten Cilacap.
Buku “Di Sekolah Pesisir: Tangguh Bencana, Ketika Sekolah Menjadi Ruang Aman Bagi Anak” diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi program, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran mengenai pentingnya membangun sekolah sebagai ruang aman bagi anak di tengah ancaman bencana yang terus berkembang.

No Comments