Share this article

Jumat ,17 Oktober 2025

Siang itu, tepat pukul 12.00 WIB, jam istirahat baru saja usai, namun bagi kami, sebuah tugas penting dan mendesak telah menanti. Kami segera bersiap, duduk di dalam mobil yang siap melaju dari lingkungan SMA Yos Sudarso Cilacap. Bersama kami adalah Pak Abe, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK) yang memiliki reputasi sebagai sosok yang sabar dan penuh empati. Beliau adalah figur kunci dalam misi ini.Kami juga berangkat Bersama 3 anak putra dari Papua yang bersekolah di SMA Yos Sudarso Cilacap.

Tujuan perjalanan kami adalah Asrama SMK  Yos Sudarso di Sidareja, sebuah lokasi yang relatif jauh, demi melakukan pendampingan intensif bagi para siswi putri yang tergabung dalam program PACE —program yang mendatangkan siswi dari pulau Papua yang merupakan Kerjasama Oblat Maria Imakulata dengan Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus di Papua.

Misi ini didorong oleh sebuah isu serius yang menyentuh hati. Salah satu siswi PACE, Cristina Yanggon, yang jauh-jauh datang dari Papua, sedang mengalami pergolakan batin yang hebat. Ia berulang kali menyatakan keinginannya untuk pulang karena merasa sangat tidak nyaman dan sulit menyesuaikan diri di lingkungan Cilacap.

Kami menyadari bahwa perasaan rindu kampung halaman dan gegar budaya adalah tantangan besar bagi anak-anak PACE. Kehadiran Pak Abe bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan untuk menciptakan ruang aman di asrama agar Cristina dan teman-teman putrinya bisa menyampaikan segala keluh kesah dan keraguan mereka. Kami berharap pendampingan ini bisa menjadi jembatan emosional, baik itu untuk membantu Cristina menemukan kenyamanan baru di Sidareja, atau memfasilitasi langkah terbaik yang harus diambil selanjutnya demi kesejahteraan mentalnya.

Perjalanan siang hari itu bukan sekadar perjalanan fisik menuju Sidareja, melainkan sebuah manifestasi kepedulian sekolah yang ingin memastikan bahwa setiap anak, tak peduli seberapa jauh mereka datang, merasa didengarkan dan didukung sepenuhnya.

Selasa, 04 November 2025

Misi pendampingan kami untuk teman-teman putri program PACE dilanjutkan dengan perhatian yang lebih mendalam pada kondisi emosional dan psikis mereka. Kami menyadari bahwa tantangan terbesar mereka bukanlah sekadar tugas sekolah, melainkan kerinduan, kecemasan adaptasi, dan beban psikologis berada jauh dari rumah.

Dalam sesi kali ini, kami berkolaborasi dengan Pak Triyo, Guru BK dari SMK Yos Sudarso Sidareja, yang kehadirannya memberikan kesinambungan dukungan di asrama. Pertemuan tidak difokuskan pada ceramah, melainkan menjadi ruang terapi kelompok yang suportif. Kami berusaha keras untuk menguatkan mereka dari dalam.

Kami mendorong teman-teman PACE untuk mengakui dan mengelola perasaan mereka—kerinduan pada keluarga, rasa tidak nyaman, hingga tekanan untuk berhasil. Pesan utama kami adalah validasi emosi: Wajar jika merasa sulit, namun kesulitan itu harus diubah menjadi kekuatan mental.

Kami menekankan bahwa kegiatan belajar yang giat dan tanggung jawab yang disiplin—baik itu di asrama maupun sekolah bukan hanya kewajiban, tetapi merupakan strategi pertahanan psikis terbaik. Dengan fokus pada rutinitas dan pencapaian kecil, mereka dapat membangun rasa kontrol dan kepercayaan diri yang secara bertahap akan menggeser rasa cemas dan sepi. Kami mengingatkan mereka bahwa setiap buku yang mereka buka, setiap tugas yang mereka selesaikan, adalah langkah nyata yang mendekatkan mereka pada impian dan membuktikan bahwa mereka kuat secara fisik dan mental.

Sesi ini bertujuan menanamkan optimisme: Mereka adalah para pejuang yang dikelilingi oleh tim dukungan.

Kamis, 13 November 2025

Lingkungan Asrama PACE diselimuti mendung duka. Kami terpaksa menunda kunjungan penghiburan karena padatnya jadwal, termasuk kegiatan Choice untuk remaja di Paroki St.Stephanus Cilacap, namun kabar kepergian mama dari Marlina, putri program PACE asal Papua, pada Jumat,  7 November 2025 terus membebani hati kami. Akhirnya, hari ini, kami tiba untuk menjumpai dan membersamai  Marlina dalam suasana peringatan 7 hari berpulangnya sang ibunda.

Kami datang bertiga: saya, Ibu Arin, dan Ibu Maria, dengan membawa bekal spiritual sebagai pelipur lara pertama. Di kapel sekolah sesudah pulang sekolah, yang terasa hening, kami melaksanakan ibadat arwah 7 hari yang dipimpin penuh hikmat oleh Ibu Maria. Momen suci ini menjadi waktu bagi kami untuk berbagi beban yang dipikul Marlina, memanjatkan doa bagi ketenangan jiwaIbu Marlina , dan memohon kekuatan iman agar Marlina mampu menanggung kehilangan yang begitu besar di tanah rantau.

Namun, di tengah-tengah kami, Marlina hadir dengan sorot mata yang menyimpan luka basah dan berat. Sebagai seorang anak yang harus menghadapi kehilangan ibunda, terpisah ribuan kilometer dari keluarga besarnya, kedalaman luka hati itu begitu kentara. Ia terlihat kesulitan untuk berbagi cerita atau mengungkapkan perasaannya. Dengan penuh pemahaman, kami memilih untuk tidak mendesaknya berbicara. Kami meyakini bahwa kehadiran, pelukan, dan doa bersama yang tulus adalah bentuk dukungan non-verbal paling berharga yang bisa kami berikan.

Untuk memberikan jeda psikologis dari kesedihan, kami lantas mengalihkan pembicaraan ke topik yang ringan dan futuristik. Kami berbincang santai mengenai agenda kurikulum SMK yang menarik: Kunjungan Industri (KI) bagi siswa kelas X ke Jakarta pada Januari 2026. Obrolan tentang hiruk pikuk Ibukota, gedung-gedung tinggi, dan pengalaman baru di perusahaan-perusahaan besar ini menjadi penutup pertemuan kami. Harapannya, rencana perjalanan ini dapat mengalihkan perhatian Marlina sejenak, menanamkan benih harapan dan antisipasi akan masa depan yang cerah, serta mengingatkannya bahwa meski duka itu nyata, perjalanan pendidikannya masih panjang dan penuh peluang.


Share this article