Romo Carolus OMI menerima penghargaan Special Achievement Svarna
Bhumi Award 2026. Di panggung, ia menolak disebut pahlawan pangan – ia menyebut dirinya pengemis.

Penyerahan penghargaan Special Achievement Svarna Bhumi Award 2026 kepada Romo Carolus di atas panggung.
Lampu panggung menyala, tepuk tangan bergemuruh, dan seorang lelaki berusia 83 tahun melangkah pelan menuju podium. Piala Svarna Bhumi Award 2026 untuk kategori Special Achievement baru saja disematkan pada namanya. Namun kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan ucapan terima kasih atas kehormatan itu, melainkan sebuah permintaan maaf dalam bahasa Jawa.”Nyuwun pangapunten,” katanya. Lalu, dengan logat yang setelah lima dekade masih menyimpan jejak Irlandia, ia meluruskan sesuatu yang tampaknya mengganggu hatinya sepanjang malam itu.”Bukan Carolus yang kerja. Yang lain yang kerja. Saya hanya tugas mengemis.”
Hadirin tertawa. Tetapi siapa pun yang pernah menyusuri pematang sawah di Kampung Laut,
Cilacap, tahu bahwa kalimat itu bukan sekadar merendah.Datang pada 1973, dan tidak pernah benar-benar pergiRomo Charles Patrick Edward Burrows OMI – yang oleh masyarakat Cilacap dipanggil Romo Carolus – tiba di Cilacap pada tahun 1973. Yang ia temukan di Desa Sawangan bukanlah ladang misi yang romantis: warga hidup dalam kekurangan pangan, dengan infrastruktur yang nyaris tak ada.Ia mengambil jalan yang tidak lazim bagi seorang misionaris muda saat itu. Alih-alih membagikan bantuan, ia memilih memberdayakan. Melalui Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), ia menggalang dukungan dari berbagai negara, lalu menyalurkannya bukan sebagai sedekah, melainkan sebagai upah: pangan untuk warga yang bergotong royong membangun jalan, jembatan, dan tanggul.Pola padat karya itu melahirkan dua hasil sekaligus. Perut warga terisi, dan desa mereka berubah wujud.Ada satu cerita kecil yang ia bawakan malam itu, dan justru cerita itulah yang paling menjelaskan cara berpikirnya. Bantuan pangan pertama yang ia peroleh dari Amerika berupa bulgur – gandum pecah yang, setelah ia teliti, ternyata mengandung 85 persen gandum dan 15 persen kedelai.”Makan nasi hanya bisa sampai jam sebelas. Makan gandum sama kedelai bisa sampai jam satu.”Bagi orang yang bekerja mengangkut tanah di bawah terik matahari, selisih dua jam rasa kenyang itu bukan detail sepele. Itu adalah selisih antara pekerjaan yang selesai dan pekerjaan yang terbengkalai.Lumpur yang diubah menjadi sawahPerjuangan itu berlanjut ke Kampung Laut – kawasan rawa di pinggir Segara Anakan yang kerap terendam banjir dan lama dianggap tak berguna untuk apa pun.Romo Carolus melihatnya secara terbalik. Endapan lumpur yang dibawa Sungai Citanduy dan Cimeneng, yang selama ini dikeluhkan sebagai masalah sedimentasi, justru ia baca sebagai bahan baku. Bersama warga, lumpur itu ditata, dikeringkan, dan pelan-pelan dicetak menjadi lahan pertanian.Hari ini sekitar 1.500 hektare sawah terbentang di sana, menghasilkan kurang lebih lima ton gabah per hari, dan menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga yang dahulu terhimpit kemiskinan.Namun ia tidak berbicara tentang hektare dan ton di panggung itu. Ia berbicara tentang tanggul.”Kalau tidak ada tanggul, air laut masuk, dan tidak bisa berhasil,” katanya. Sawah seluas apa pun akan sia-sia bila air asin menerobos. Maka permintaannya kepada para tamu di ruangan
itu sangat konkret: bantu urusan tanggul, dan bantu agar surat-surat tanah warga benar
secara hukum.”Saya tidak mau award, saya mau duit”Kalimat itu ia ucapkan dengan wajah datar, dan seisi ruangan meledak dalam tawa.Di baliknya ada keprihatinan yang nyata. Dahulu ia “mengemis” ke Amerika, ke Jerman, ke berbagai negeri. Kini pintu-pintu itu banyak yang tertutup dengan alasan yang sama: Indonesia sudah kaya.Jawabannya khas Romo Carolus – bukan mengeluh, melainkan mencari jalan lain sambil bergurau. “Lalu saya cari pengemis yang lebih muda dari saya,” katanya, sambil menoleh ke arah Andy F. Noya, pendiri BenihBaik.com yang juga duduk sebagai dewan juri penghargaan malam itu.Sasaran barunya adalah para filantrop dalam negeri. Dan di sinilah ia melontarkan gagasan yang paling diingat hadirin: tugasnya, katanya, adalah “merehabilitasi” orang-orang yang suka kaya menjadi orang-orang yang suka miskin – mereka yang tetap kaya, tetapi hatinya condong kepada yang miskin.

“Bukan Carolus yang kerja. Yang lain yang kerja.”
Sebuah rumusan sederhana tentang kemiskinan sukarela, diucapkan oleh seorang religius yang telah menjalaninya lebih dari lima puluh tahun.Yang tersisa setelah pialaMalam itu Romo Carolus menerima trofi Special Achievement Svarna Bhumi Award 2026 dari Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, beserta apresiasi senilai
Rp.65 juta. Penghargaan tahunan ini diselenggarakan Pupuk Indonesia bersama
BenihBaik.com dan Kick Andy Metro TV bagi mereka yang disebut “pahlawan pangan”.Ia sendiri, seperti biasa, sudah memikirkan hal lain. Sebelum meninggalkan panggung, ia sempat mengucapkan terima kasih kepada anak-anak muda yang hadir, dan menyebut satu harapan yang terdengar sangat sederhana: agar masyarakat di sana bisa “bangun pagi dan menyanyi”.Lima puluh tiga tahun, ribuan hektare sawah, dan ribuan keluarga yang keluar dari kemiskinan – semuanya bermuara pada keinginan sesederhana itu.Dan ia tetap bersikeras bahwa bukan dirinya yang mengerjakannya.

Romo Carolus bersama rombongan pendamping seusai acara penganugerahan.
Romo Charles Patrick Edward Burrows OMI adalah imam Kongregasi Misionaris Oblat Maria Immaculata (OMI) yang berkarya di Cilacap sejak 1973 dan mendirikan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS).
Oleh : Rm. Aloysius Wahyu Nugroho, OMI
No Comments