Pada 22 Mei 2017 lalu, Romo Carolus, Ketua Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA Ketua M.I.C.I.D. Universitas Gadjah Mada, dan dua asistennya yaitu Aksan Susanto, ST, M.Sc., Bima Setya Nugraha, SH, M.Sc., bersama beberapa staff Petugas Lapangan YSBS meninjau lokasi proyek food security di daerah Panikel, Pelindukan, dan Ciberum, Kampung Laut Cilacap. Setelah kunjungan lapang, diadakan sesi tanya jawab dan sharing yang melibatkan masyarakat sekitar dan perangkat desa untuk menceritakan tentang program food security YSBS dan manfaatnya bagi masyarakat, serta menyampaikan kendala dan masalah yang dialami mereka. Hasil dari kunjungan lapangan ini akan didiskusikan dalam seminar di hari berikutnya.

Pada 23 Mei 2017 diselenggarakan Seminar Guarantee Food Security Trough Reclaiming Land and Produce Storage and Transportation for Cilacap and Indonesia (Garansi Ketahan Pangan dengan reklamasi tanah dan lumbung pangan dan transportasi untuk CIlacap dan Indonesia). Seminar ini diselenggarakan oleh YSBS dengan mengundang pembicara antara lain Supriyanto, SH,M.Si., Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Cilacap dan Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA. Seminar ini juga dihadiri oleh Ir. Y. Parsiyan selaku anggota DPRD Cilacap, Ir. Susilan dari Dinas Pangan dan Perikanan mewaliki Bupati Cilacap, dan Hamzah Syafroedin, ST, MM dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Cilacap.

Romo Carolus membuka seminar ini, dalam kata sambutannya beliau berharap seminar ini berguna serta menimbulkan sinergi antara masyarakat desa, pemerintah, dan YSBS supaya program bisa menjadi kenyataan dan berkelanjutan karena adanya potensi yang besar untuk menghasilkan sawah produktif di Kampung Laut, yang merupakan daerah di Segara Anakan.

K640_IMG_6038

Pembicara pertama yaitu Pak Supriyanto, selain sebagai Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Cilacap, beliau merupakan ahli di bidang Segara Anakan. Paparan dari Pak Supriyanto antara lain

  • Nilai penting Segara Anakan, potensi yang ada mulai dari perikanan, mangrove, dan pariwisata
  • Permasalahan yang muncul adalah tingginya tingkat sedimentasi yang mengakibatkan penurunan luas laguna akibat sedimentasi. Pada tahun 1984 luas laguna mencapai 2.906 ha, pada tahun 2014 luas laguna hanya 500 ha. Hal ini menimbulkan banjir dan kekurangan air di musim kemarau
  • Permasalahan lainnya adalah penurunan luas hutan mangrove. Pada tahun 1974 luas hutan mangrove mencapai 15.551 ha, pada tahun 2014 luas hutan mangrove hanya 6.716 ha.
  • Masalah lain yang tidak kalah penting adalah status hokum kepemilikan lahan yang belum jelas sehingga menimbulkan sengketa kepemilikan lahan, perambahan dan alih fungsi tanah dari hutan menjadi lahan pertanian, tambak, dan pemukiman.
  • Program mendesak pengelolaan Segara Anakan yang perlu dilakuakn adalah pengerukan secara berkala, rehabilitasi mangrove, kegiatan pemberdayaan masyarakat Segara Anakan melalui pertanian terpadu dan pengembangan wisata.

K640_IMG_6059

YSBS dengan dana dari Misereor, lembaga donor dari Jerman, membuat program food security (ketahan pangan) dengan membuat reklamasi tanah, pembuatan kanal, dan pintu-pintu air di daerah Kampung Laut yang timbul akibat sedimentasi Segara Anakan.

Pembicara kedua yaitu Prof. Usman yang memaparkan evaluasi pintu-pintu air untuk perluasan lahan pertanian. Evaluasi ini didapatkan dari kunjungan ke lokasi pada 22 Mei 2017. Paparan dari beliau antara lain:

  • Lumpur/sedimentasi di Sungai Cimeneng dan Sunga Citandui (merupakan bagian dari Segara Anakan) di daerah Kampung Laut merupakan musibah yang menjadi berkah bagi masyarakat sekitar.
  • Pembangunan pintu-pintu air sebagai “local knowledge” (relevan (sesuai kebutuhan), efisien (kalkulasi ekonomi), efektif (kalkulasi sosial & kultural), efek (perubahan) positif
  • Manfaat dengan adanya pintu-pintu air yang dibangun YSBS antara lain menambah debit air (7.700 m3), memperbanyak lumpur masuk ke sawah penduduk, dan memperluas lahan (4 bulan / 10 ha)
  • Proyek ini merupakan inovasi baru dan terobosan berdasarkan local knowledge dan local wisdom sehingga masyarakat dapat menerima, pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dan masyarakat ikhlas memberikan lahannya untuk saluran irigasi
  • Program ini memiliki nilai relevan, efesien, efektif, efek positif. Relevan yaitu dirasakan sesuai dengan kebutuhan, petani merasakan manfaatnya, sehingga permintaan terus ditambah. Efisien secara kalkulasi ekonomi dibanding dengan pompa jauh lebih murah dan hasil lebih banyak. Efektif secara kalkulasi sosial tidak menimbulkan konflik/gejolak, justru memperkuat modal social. Efek positif yang muncul adalah perubahan luas lahan pertanian yang sangat signifikan. Pada musim kering seperti sekarang petani bisa budidaya pertanian
  • Mirip dengan The Triple Helix Model, sebuah system yang melibatkan tiga pihak berkepentingan, dalam hal ini adalah YSBS, masyarakat, dan pemerintah daerah. Program ini merupakan inovasi baru, terobosan (break through), supaya sendimentasi menjadi berkah. Dimulai dari proyek drainase (pengairan), pompa air, pembuatan kini pintu-pintu air. Ketergantungan pada YSBS (Romo Corolus) masih tampak cukup tinggi. Dinamika masyarakat lokal dalam bentuk partisipasi, respons positif, adaptasi tidak berhenti maka lahirlah pintu-pintu air berbasis local knowledge. Partisipasi dan fasilitasi Pemda cukup kuat dengan pembuatan satu pintu air dari program PNPM dan pemberian bibit serta pestisida. Pada akhirnya program ini mendukung Cilacap sebagai lumbung pangan sehingga mendukung potensi menuju agribisnis
  • Pertanyaan yang muncul, apa yang harus dilakukan ke depannya? Maka diperlukan rencana pembangunan masyarakat dengan mendayagunakan infrastruktur yang Infrastruktur sangat penting dan ditempatkan sebagai fasilitas fisik untuk meningkatkan kesejahteraan (modal fisik). Dalam hal ini dibutuhkan kebijakan dan program terkait dengan manusia.  Terkait motivasi, persepsi, pengetahuan, kesadaran, sikap dan tindakan sehingga meningkatkan harkat dan martabat sebagai manusia dan mahluk Tuhan.
  • Saran dari Prof. Usman anatara lain agar masyarakat Kampung Laut yang terbuka dan mengetahui potensinya. Maka perlu diadakan program pelatihan penggunaan internet, terutama untuk pemuda yang bisa jadi “broker”. Akses dengan perguruan tinggi. Kampung Laut sebagai laboratorium sosial, ekonomi & lingkungan. Mahasiswa  KKN Tematik bisa diundang untuk berpartisipasi dalam pemberdayaan Kampung Laut (dosen pembimbing hadir).

K640_IMG_6064

Pak Parsiyan juga menyampaikan pendapatnya dari sisi politik. Beliau sangat mendukung program YSBS di Kampung Laut dan berjanji memberikan dukungan pemerintah secara penuh untuk kesejahteraan masyarakat Kampung Laut. Menurut beliau dari sisi politis, kalau sdh masuk kebijakan politis, Kampung Laut harus ada anggota DPRD 1 orang. Kabupaten Cilacap memiliki jumlah desa paling banyak, jumlah penduduk juga banyak, tetapi angka kemiskinan tinggi yaitu di atas 14%, sedangkan angka kemiskinan rata-rata Provinsi Jawa Tengah 12%.

Menurut Pak Parsiyan Cilacap merupakan daerah penyangga pangan, tetapi petani masih dalam posisi di bawah garis kemiskinan. Ketahanan pangan berarti keanekaragaman pangan, namun persoalan yang muncul produksi tinggi tetapi tidak bisa dijual. Program pengerukan segara anakan tidak berjalan karena keterbatasan dana, akhirnya tidak bisa menyelesaikan masalah. Perda yang sedang dibuat mengenai Pemberdayaan & Perlindungan Pertanian.

K640_IMG_6067

Pak Silan menambahkan bahwa masyarakat harus mengedepankan local wisdom, meyakini bahwa makanan yang ada di daerah itu sehat dan aman. Makad diperluka pengadaan bahan pangan untuk masyarakat setempat.

K640_IMG_6044

Pak Hamzah sangat mendukung program YSBS, dalam hal penataan ruang. Cilacap sebagai penyandang Pusat Pelayanan Nasional (PPN) bisa melayani sekala nasional, sebagai penyangga pangan.Memiliki kawasan penyangga pertanian secara teknis 42.000 ha. Bagaimana PEMDA bisa memposisikan diri dalam menghadapi UU maupun kepentingan masyarakat. Sejak 2002sudah mengurus segara anakan tetapi belum ada hasil nyata. Menurut beliau Kampung laut ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional, sehingga segala hal ditentukan dari pusat. Padahal masyarakat butuh kebijakan yang real dan sustainable sesuai local wisdom.

Setelah pemaparan dari pembicara-pembicara tersebut, acara seminar dilanjutkan dengan tanya jawab. Pertanyaan pertama dari Darsih yang mewakili UPT Pertanian. Menurut beliau dengan adanya Kampung Laut merupakan daerah dengan peluang untuk menciptakan lahan (sawah) baru. Kesulitannya yang muncul adalah ketersediaan air, mungkikah untuk mengembangkan sumber air yang ada misalnya dari Sungai Cimeneng dengan teknologi solar cell. Beliau juga mengusulkan untuk mengenalkan program kedelai dan jagung, juga padi tahan air asin. Usulan lainnya adalah pengembangan biopori untuk mengurangi pecah-pecah di tanah khususnya pada musim kemarau. Impian Kampung Laut sebagai pusat pertanian, centra padi organik, serta mengembangkan kambing daerah Panikel dan Ujung Gagak sebagai centra kambing.

Tanggapan dari Pak Supri, biopori di daerah Aplan yang bisa menyimpan cadangan air, di bawah bila mengembangkan pertanian, yang memungkinkan adalah sesuai proyek YSBS membangun poll 2 air.  Ada 2 keuntungan yaitu sedimen dan sanitasi. PSDA menyambut baik, PSDA Jateng mendorong embong2. YSBS sebagai inisiator sudah menjadi stimulus positif, tinggal buat cluster2 sesuai dengan identifikasi dasar.

Tanggapan dari Pak Parsiyan, benih padi air payau (bukan padi air asin) pernah dicoba di Kesugihan, mencoba meyakinkan kepada dinas PPL diwajibkan deepload.

Tanggapan dari Prof.Usman, gabungan antara perencanaan dan implementasi, kegiatan pembangunan tidak dalam ruang hampa namun harus ada satu point penting yang harus sesuai dengan infrastruktur. Pembangunan pertanian secara terus menerus implementasinya memberikan dampak. Teknologi solar cell gagal karena dinilai terlalu canggih sehingga sulit dilaksanakan petani, adanya kebijakan-kebijakan yang berubah-ubah susah mempertahankan program yang ada.

Tanggapan dari Pak Silan, perkebunan mengalami kendala, memiliki komoditas pembibitan tetapi dengan aturan-aturan kebijakan yang berbeda sehingga sulit untuk distribusi.

K640_IMG_6084

Pertanyaan kedua dari Sutono yaitu dengan situasi yang sangat mendesak, ada proyek penanganan Sungai Ciberem. Dangkalnya sungai Cimeneng itu membuat miris. Kebijakan yang ada mohon agar tidak hanya terkait dengan A plan saja, kalau bisa kebijakan itu bisa saling menguntungkan.

Tanggapan dari Pak Parsiyan, kebijakan dari pusat tidak bisa dari daerah walaupun sudah berupaya.

Tanggapan dari Pak Supri,  lintas batas bukan kewenangan provinsi tapi kewenangan pusat, balai besar hanya sebagai UPT. Sedimentasi yang sangat besar menjadikan segara anakan tidak mampu menampung. Seharusnya semua hal terintegrasi tetapi karena semua dari pusat sehingga tidak bisa ditentukan daerah.

K640_IMG_6088

Harapan utama dari seminar ini adalah apa yang akan dilakukan untuk masa yang akan datang. Apa saja yang harus dilakukan akan program yang sudah berjalan dengan baik ini tidak berhenti dan tetap bekelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena program ini menitikberatkan pada local knowledge dan local wisdom serta proses bottom-up, dimana program berjalan karena adanya aspirasi masyarakat.

K640_IMG_6091