Merdeka.com – Ini adalah cerita tentang toleransi dan keberagaman, sikap-sikap yang mesti terus disuarakan demi keutuhan seantero negeri yang beraneka kultur, etnis, budaya dan kepercayaan. Di Sidareja Kabupaten Cilacap, ratusan remaja yang belum genap berusia 20 tahun terbiasa membaur dalam perbedaan iman. Islam, Kristen, Buddha juga penganut kepercayaan lain, bersama-sama dipupuk untuk saling bertoleransi dan terbiasa hidup saling berbagi.

Lola Ekaryanti (18) ikut menahan lapar dan dahaga selama beraktivitas di sekolah, meski ia penganut Kristen Protestan, ia terdorong untuk menghormati mayoritas teman-temannya yang tengah menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadan. Lola begitu dia akrab disapa, tengah duduk bersama dua temannya di halaman gereja pada Sabtu (17/6) sore saat ditemui merdeka.com. Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, Lola dan Dian Safitri (16) yang mengenakan kerudung hitam tengah menunggu kudapan dan nasi bungkus untuk kegiatan bakti sosial.

“Selama tiga hari ini kami ikut kegiatan pesantren kilat di sekolah,” kata Dian. “Di kelas yang berbeda, siswa non-Muslim melaksanakan renungan iman,” ujar Lola saat berbincang dengan merdeka.com.

Sekolah yang dimaksud Lola dan Dian adalah SMK Yos Soedarso, nama yang diambil dari pahlawan nasional Indonesia Yoshapat Soedarso yang meninggal di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran Laut Aru. Sekolah ini berafiliasi dengan yayasan Kristen Katolik di bawah naungan Yayasan Sosial Bina Sejahtera yang didirikan oleh Romo Carolus. Menariknya, di sekolah ini baik murid dan jajaran guru di atas 90 persen beragama Islam. Dari 1.300 siswa, 1.100 Muslim sedang dari 97 guru 87 di antaranya Muslim.

Kegiatan bakti sosial memang rutin dilakukan sekolah tersebut setiap Ramadan. Kurang lebih 70 siswa terlibat dan terbagi dalam tiga tim. Dua tim membagikan makanan berbuka pada para tukang becak, jasa ojek, pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Sidareja, Terminal Sidareja dan tempat-tempat lain. Sedang satu tim sisanya, menyiapkan buka bersama antara pengurus yayasan, guru, tamu undangan dan sesama murid.

Ketika Lola dan Dian tengah sibuk membagikan makanan berbuka, di tempat terpisah lantai 2 gedung sekolah Nola Eka Fajriati (16) tengah menata hidangan buka bersama. Lola dan Nola, sudah bersahabat sejak setahun terakhir. “Pacarnya Lola juga Islam. Kadang-kadang sering curhat. Tapi paling ya cinta monyet,” kata Nola sembari tersenyum.

Nola sendiri penganut agama Islam dan dibesarkan di lingkungan Islam. Ia bercerita, dahulu saat masih anak-anak sampai sekolah menengah pertama, ada rasa enggan dan aneh berdekatan dengan orang yang tak seiman. Tetapi sejak bertemu dengan banyak teman yang berbeda agama, Nola merasa semua orang sama yakni saling membutuhkan dan saling menutup kekurangan masing-masing.

“Dulu ada rasa enggan. Tapi sekarang saya menyadari, setiap agama mengajarkan hal baik. Selama ini saya dan Lola bersahabat baik. Sudah terbiasa dia menunggu saya salat bahkan mengingatkan saya untuk salat misalnya saat jalan-jalan,” kata Nola.

SMK Yos Soedarso sendiri sejak didirikan pada tahun 1979 bukan tanpa problem. Di kalangan Katolik sendiri, sekolah ini pernah dikritik karena dianggap bias tak berani menunjukkan identitas sebagai bagian dari Katolik. Sedang persepsi sempat muncul di masyarakat luas, sekolah ini dianggap membawa misi penyebaran agama.

“Problem itu kita jawab dengan membangun iklim keberagamaan. Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan soal di lingkungan kami,” kata Parsiyan, Kepala Sekolah SMK Yos Soedarso saat ditemui merdeka.com.

Parsiyan mengatakan iklim keberagaman ini secara khusus di sekolah memang disatukan dalam kegiatan berbagi. Maksudnya, baik siswa Islam, Kristen, Buddha dan penganut kepercayaan akan saling membaur saat kegiatan sosial yang umumnya dilakukan saat hari besar agama baik Idul Adha, Maulud Nabi, Natal, Waisak serta lainnya.

“Kami percaya, 10 sampai 15 tahun lagi mereka (siswa) jadi pemimpin. Kalau pondasi keberagaman sudah baik, maka mereka bakal jadi pemimpin yang baik,” kata Parsiyan.

Di sekolah tersebut, ditegaskan Parsiyan ada satu larangan yang mesti ditaati. Baik guru dan murid dilarang berbantah-bantahan tentang agama. Pasalnya, berbantah-bantahan sangat rentan menimbulkan percekcokan.

Terkait pandangan tentang keberagaman di sekolah tersebut, KH Hasan Mas’ud, pengasuh Pondok Pesantren Rubat Mbalong Ell-Firdaus Kedungreja mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sifatnya suci dan setiap manusia fitri. Ia menegaskan menurut konsep agama Islam untuk urusan mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan dunia boleh pada siapapun dengan latar belakang agama, kultur, etnis apapun bahkan dari mulut hewan.

“Ilmu itu suci, apalagi jika ilmu itu menyatukan setiap orang dalam kebersamaan, toleransi dan tidak mempertengkarkan perbedaan,” ujar Gus Hasan.

Dia juga menambahkan, toleransi dalam skala luas dapat mencegah paham-paham radikal. Menurutnya ilmu pengetahuan yang baik akan selalu mengingatkan bahwa taman keberagaman perlu terus dijaga karena bagian dari rahmat Tuhan. [cob]

(https://www.merdeka.com/peristiwa/persahabatan-3-siswi-di-cilacap-ajarkan-toleransi-antaragama.html)